Ujung Tanduk Resistensi Garuda Indonesia Akibat Beban Utang - Digitren Indonesia
Beranda » Travel News » Ujung Tanduk Resistensi Garuda Indonesia Akibat Beban Utang

Digitren.id – Pada dasarnya, tujuan jangka pendek memulai suatu perusahaan adalah untuk mendapatkan keuntungan, dan tujuan jangka panjang perusahaan adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan. Salah satu indikator utama pengukuran nilai perusahaan dapat tercermin dari kinerja perusahaan berdasarkan laporan keuangan.

Berbicara tentang strategi untuk mencapai tujuan jangka panjang untuk meningkatkan nilai perusahaan erat kaitannya dengan situasi permodalan perusahaan.

sumber google

Modal perusahaan yang kuat akan mempengaruhi pendapatan perusahaan karena posisi modal itu sendiri merupakan dasar utama bagi perusahaan untuk melakukan pekerjaannya dalam menyediakan barang dan/atau jasa.

Setidaknya ada dua cara untuk mengembangkan perusahaan: modal sendiri dan modal pihak ketiga. Menarik untuk dibahas ketika memilih modal pihak ketiga sebagai opsi konsolidasi utang untuk memperkuat permodalan perusahaan.

Baca juga: Mudahnya Pinjaman Online Tanpa Syarat dan Langsung Cair

Modal opsional melalui hutang memiliki beberapa keuntungan bagi perusahaan, beberapa di antaranya adalah mentransfer risiko bisnis kepada pemberi pinjaman, pinjaman. Pemanfaatan besar, pajak penghasilan mengurangi beban dan mendukung pembiayaan ekuitas perusahaan.

Selain banyak keuntungan yang ditawarkan, jika modal yang dililit hutang tidak dikelola dengan baik, ada risiko perusahaan akan kesulitan dan tidak akan mampu membayar hutang bahkan kepada kreditur.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk merupakan cerminan sejati dari krisis utang. (Garuda Indonesia) beban utang semakin menumpuk.

Gada Indonesia memiliki total utang sebesar $9,8 miliar, dimana $6,3 miliar merupakan utang maskapai penerbangan.

Selain itu, sejak 31 September menurut laporan keuangan agregat Garuda Indonesia, total asetnya sekitar $9,4 miliar. Menurut Wakil Menteri BUMN Kartika Werjormojo, kekayaan Guruda mencapai US$6,93 miliar dan utangnya mencapai US$9,8 miliar.

Melihat situasi ini, secara teknis, Garuda Indonesia memiliki risiko kebangkrutan yang tinggi. “Dalam konteks perbankan saat ini, Pada kerugian teknis (Pada kerugian teknis), tapi Sah belum. Kami sekarang mencoba untuk keluar dari situasi ini Pada kerugian teknis“.

Meskipun Garuda Indonesia tidak pailit secara hukum, namun tetap ada risiko hukum pailit. Pasalnya, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengajukan permohonan kepada PT Mitra Buana Koorporindo pada Kamis, 9 Desember 2021, untuk pendaftaran PKPU. .Pst.

Baca juga: Pinjaman Dana Jaminan KTP Berbasis Syariah Aman Dari Riba dan Tanpa Denda

Posisi Garuda Indonesia dalam bahaya, karena satu-satunya cara agar perusahaan tetap bertahan adalah dengan menegosiasikan penyelesaian dengan kreditur atau, lebih umum, penyelesaian utang. Langkah itu bisa berhasil jika pemberi pinjaman menyetujui usulan restrukturisasi utang, jika tidak, Garada Indonesia akan bangkrut jika ditolak.

PKPU berdasarkan UU No. 37 Tahun 2004 mengkaji kepailitan dan pelunasan utang (UU kepailitan) dalam 2 (dua) tahap: PKPU sementara dan PKPU tetap. Berdasarkan Pasal 225 (4) UU Kepailitan, PKPU sementara berlaku paling lama 45 (empat puluh lima) hari setelah putusan PKPU diumumkan.

Pada titik ini, peminjam, dalam hal ini Garuda Indonesia, memiliki kesempatan untuk menyiapkan rencana rekonsiliasi atau restrukturisasi utang sebanyak mungkin, dan kemudian menyampaikannya kepada pemberi pinjaman.

Jika Garuda Indonesia tidak mendapatkan izin dari krediturnya untuk melunasi pinjaman sampai PKPU sementara selesai, ada 2 (dua) opsi tambahan: PKPU permanen atau keputusan pailit.

Menurut penjelasan PKPU di atas, hal itu karena kreditur menolak PKPU permanen setelah PKPU sementara dan pengadilan menyetujui kerugian.

Garuda Indonesia tidak memiliki banyak opsi untuk konsolidasi utang dalam rencana perdamaian yang diusulkan karena sebenarnya banyak aspek yang perlu diperhitungkan dalam semua jenis restrukturisasi utang.

Aspek yang paling penting untuk diperhatikan adalah keadaan keuangan perusahaan, terutama total aset perusahaan dibandingkan dengan total hutang dan hutangnya.

Seperti disebutkan sebelumnya, kondisi properti Garuda Indonesia berbanding terbalik dengan total utangnya. Hal ini akan mempengaruhi jenis restrukturisasi utang yang perlu dilakukan dengan urusan keuangan perusahaan.

Konsolidasi Hutang, Konsolidasi Hutang, Pendirian Kembali, Penjadwalan Penjualan properti dan bentuk lainnya yang mempersulit pelaksanaan keuangan perusahaan.

Baca juga: Pinjaman Cepat Cair Dalam Hitungan Menit Tanpa Denda

Selain itu, mengingat Gada Indonesia adalah perusahaan milik negara, pemerintah dapat mendukung Garuda Indonesia dengan memberikan suntikan modal, mengingat sebagian besar alokasi modalnya berasal dari berbagai aset pemerintah.

Bentuk modal yang disertakan berlaku untuk badan usaha milik negara, Pasal 4 UU No. 19 Tahun 2003, yang menjelaskan penyertaan modal pemerintah dalam anggaran pendapatan dan belanja negara, cadangan dan sumber lainnya.

Kehadiran suntikan modal pemerintah bukan berarti Indonesia aman dari beban utang. Garuda Indonesia tetap harus memperhatikan fitur perusahaan dan bisnis untuk menyusun rencana restrukturisasi di tingkat PKPU.

Oleh karena itu, menurut keterangan di atas, Garuda Indonesia yang terlilit utang dan telah diputus oleh pengadilan di PKPU, secara hukum tidak melanggar kepailitan perseroan.

Namun, satu-satunya jalan keluar dari situasi ini adalah Indonesia menerima strategi konsolidasi utang semaksimal mungkin dengan berfokus pada aspek keuangan perusahaan dan masalah lainnya. Oleh kreditur.

Sumber : retizen.republika.co.id

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.