12 Agustus 2021 Oleh Admin Digitren 0

Teknik Membacakan Buku Anak dan Tips Memilih Buku Anak

Digitren.id – Membicarakan tentang buku anak, kita pasti berfikir bahwa buku anak itu diperkenalkan untuk anak yang sudah mengenal abjad atau memasuki usia TK. Padahal, sebenarnya buku itu bisa diperkenalkan dari usia 0 bulan. Wah, pasti ibu-ibu banyak yang mengira akan percuma bila bayi 0 bulan diperkenalkan dengan buku anak. Buku sangat bermanfaat untuk perkembangan motorik dan otak bayi, tentunya jenis buku disesuaikan dengan tahapan usia anak.

Buku anak

Sebenarnya fase benar-benar membaca ini biasanya antara 5-7 tahun. Namun tentunya agar anak lebih siap dan tak terburu-buru, kita bisa memperkenalkanya lebih awal untuk menimbulkan rasa cinta anak kepada buku. Nah bagaimana cara menciptakan rasa suka terhadap buku anak? Kita bisa memperkenalkan buku anak dari bayi, tidak selalu harus yang ada kalimatnya. Cukup dengan kata beserta gambar hewan, tanaman, buah-buahan atau mainan. Bahkan untuk mainan atau dibolak balik saja dulu pun tidak apa-apa, intinya buatlah buku jadi teman dekat si bayi dulu ya.

Selain memperkenalkan buku anak sejak bayi, anak juga diarahkan untuk belajar membaca. Menurut dr. Pinansia Finska metode yang bagus diterapkan untuk belajar membaca buku anak adalah metode montessori. Dalam metode montessori, anak lebih diarahkan untuk menulis dulu dibanding membaca. Kenapa menulis lebih dulu? Karena lebih mudah. Ketika menulis kita mengeluarkan isi kepala dan pemikiran kita, sementara kalau membaca, anak harus menerka dan mengikuti isi pikiran orang lain, dimana hal itu lebih susah dilakukan.

Pembaca pasti berfikir heran “loh kok menulis dulu?”  Ternyata anak mencorat-coret media seperti kertas atau dinding aja sudah bisa disebut menulis. Jadi, dampingi anak ketika coret-coret juga disarankan ya. Mungkin dia ingin gambar atau menulis sesuatu.

Selanjutnya, dalam metode montessori anak tidak diajarkan mengeja, namun didahului dengan pengenalan fonetik (bunyi) dari huruf masing-masing. Memantapkan pelafalan fonetik baru memperkenalkan simbol-simbol hurufnya. Lalu setelahnya barulah menuliskan simbol-simbol hurufnya dengan perabaan menggunakan sand paper letters, menulis di metal insets, menggunakan large/ small moveable Alphabet, hingga akhirnya menyusun huruf demi huruf menjadi kata, kalimat dan cerita singkat.

Namun, dr. Pinan kembali mengingatkan lagi ke kenyamanan para Ibu dengan anaknya. Apabila Ibu ingin mengajarkan anak dengan mengeja, tidak masalah. Karena, bukan metodenya dan kapan anak bisa bacanya yang menjadi point kita, tapi bagaimana caranya agar anak kita bahagia dalam menjalani proses belajar membaca, sehingga pada akhirnya kegiatan membaca buku bukanlah hal yang penuh tekanan.

Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa fase anak benar-benar belajar membaca adalah 5-7 tahun, namun bukan berarti sejak bayi baru lahir sampai umur 5 tahun kita santai saja. Ada yang namanya emergent literacy.

Emergency Literacy

Jika mengadaptasi teori dari Montessori, ada istilah namanya: EMERGENT LITERACY. Penjelasan gampang dari emergent literacy adalah, kita memang tak mengajari si kecil mengetahui baca tulis dari umur sejak sangat dini. Melainkan, kita mesti mempersiapkan mereka, supaya ketika tiba saatnya fase dimana mereka belajar baca tulis, mereka akan lebih siap, lebih mudah memahami, dan senang menjalani prosesnya.

Anak-anak dibikin cinta dulu sama tulisan, sama cerita, sama buku anak. Baru deh kita benar-benar mengajarkan mereka caranya membaca.

Kapan emergency literacy ini dilakukan? sedini mungkin, bahkan sejak dalam kandungan juga boleh.

Bagaimana caranya? membacakan buku dengan bersuara. Hal ini bertujuan agar bayi mengenalkan dan membiasakan dengan  suara orang tuanya.

Nah kegiatan emergent literacy ini diantaranya adalah story telling, read aloud, dan dongeng.

Sampai disini, paham yah esensi dari emergent litermy atau membacakan buku ke anak? Tujuanya adalah supaya mereka cinta sama buku. Lalu, selain itu apalagi ya fungsi dari membacakan buku ke anak? 

1. Mengenalkan banyak kosakata baru ke anak. Ini terutama berguna sekali untuk anak-anak yang sedang fase belajar ngomong. 

2. Melatih anak berimajinasi 

3. Membiasahan anak melihat tulisan. 

4. Bonding antara anak dan orangtua. 

1000 Buku Dalam 3 Tahun

Ada semacam challenge yakni 1000 buku dalam 3 tahun. Waahhh rugi bandar dong mamanya ga bisa jajan skincare gara-gara beli buku anak harus 1000 biji? Ternyata tidak begitu.

Maksudnya anak-anak diharapkan bisa minimal membaca 1000 buku dalam wabtu 3 tahun. Bukunya boleh sama kok dalam beberapa hari, dan jika dihitung, targetnya adalah anak paling tidak membaca 1 buku anak dalam sehari. Tidak berat kan yaaa menjalankannya. 

Tips Membacakan Buku Anak:

1. Selalu sebutkan judul buku, penulis, dan pembuat ilustrasinya. Kenapa? Ini hal penting karena kita mau memberi informasi ke anak bahwa buku ini ada judulnya, dan buku ini ditulis dan digambar oleh seseorang.

2. Jangan lupakan intonasi dan perbedaan suara dalam setiap tokoh. diperlukan supaya kegiatan membaca buku menjadi menarik.

3. Perhatikan mimik wajah. Saat membaca buku, kita juga bisa menyelipkan perkenalan macam-macam emosi ke anak. Bagaimana mimik sedih, senang, marah, dll.

4. Hentikan kegiatan jika anak sudah tidak tertarik.

5. Lakukan dengan sepenuh hati. Karena sebenarnya jenis bukunya tidak terlalu penting, yang lebih penting adalah bukunya dibacakan oleh orang tersayang. Kita harus kasih kehadiran 100% untuk membacakan, kualitas bukan kuantitas. Tidak apa-apa 10 menit asalkan bisa full fokus ke anak.

Lalu bagaimana membacakan buku anak yang benar? Apakah harus membaca sesuai teks dalam buku atau boleh improvisasi dengan bahasa sendiri yang lebih mudah dicerna anak tapi isi tetap sesuai cerita buku. Jadi kalau menurut dr. Pinan, keduanya boleh-boleh saja, bisa divariasi.

Karena menunjuk teks yang sesuai dengan teks bacaan, membuat anak jadi tau begini tulisanya. Kalau pakai bahasa sendiri jadi membuat suasana lebih santai dan akrab. Dan ketika anak sudah bisa memilih buku, biarkan anak memilih sendiri yaa bukunya. Agar dia juga semangat dalam membacanya. Kemudian, pastikan anak dalam kondisi bahagia dalam prosesnya, karena kalau anak gak Enjoy, pakai metode seperti apapun, pasti anak akan terkondisikan dalam eksekusinya. 

Teknik Membacakan Buku Anak

1. Membaca nyaring (Read aloud). 

Teknik ini adalah membacakan buku dengan suara keras, dan menunjuk tulisan yang sedang dibaca. Apabila memakai teknik ini, pembaca memang hampir tidak ada kesempatan untuk improvisasi. Tapi kelebihannya adalah, membiasakan pada anak bahwa yang kata baca adalah tulisan yang sedang kita tunjuk, selain itu juga membiasakan anak pada tulisan.

Dalam bukunya “The Read Aloud Handbook”, Trelease menyampaikan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Amerika, mereka menemukan fakta bahwa satu-satunya kegiatan bermanfaat yang dapat memudahkan anak agar bisa membaca dengan baik adalah dengan membacakan nyaring pada anak-anak. 

Kok bisa? Hal ini karena ketika Ayah Bunda membacakan buku secara keras pada si kecil yang belum pandai membaca, kita akan mengirimkan informasi melalui telinga anak yang akan menjadi pondasi dalam otak mereka.

Jadi ketika nanti anak bisa membaca sendiri, dia benar-benar memahami kata-kata yang mereka baca. Jika anak hanya diajarkan mengeja saja, tidak heran kita temukan ada banyak anak (juga orang tua) yang hanya bisa membaca kata yang nampak di depan matanya, tetapi tidak mengerti isi bacaannya. Atau kalau jaman sekarang, mudah percaya hoax karena tidak menganalisa isi bacaannya.

2. Story telling 

Dalam story telling sendiri, kita membacakan buku dengan banyak improvisasi, tidak terpaku dengan tulisan yang sedang kita baca. Untuk lebih menarik, biasanya story telling menggunakan alat peraga (tidak selalu), misalnya dengan boneka jari. Kelebihan dari teknik ini adalah anak tidak cepat bosan dan resiko terdistraksi minim sekali. 

3. Dongeng 

Kalau dongeng, kita sama sekali tidak pakai buku yah. Tapi benar-benar menceritakan kembali buku yang sudah kita baca sebelumnya (memakai teknik read aloud atau story telling), biasanya iuga menggunakan alat peraga. Kelebihan dari teknik ini adalah melatih daya imaijinasi dan daya ingat anak. Karena pada saat mendongeng, kita pasti berulang kali mengajaknya 

4. Cerita satu halaman

Jadi teknik membacakan buku yang ini, kita hanya terpaku pada gambar yang ada di satu halaman tersebut, cukup 1 halaman saja dan sebaiknya pakai buku yang ukurannya besar. Kita ceritakan secara detail apa saja yang ada di halaman tersebut. Misalnya di buku tersebut ada daun kering berwarna cokelat yang berserakan di bawah pohon tinggi jelaskan dengan detail, bukan hanya jelaskan ‘daun jatuh’ saja). 

Di lain waktu, ajak anak ke taman yang ada pepohonannya dan cari daun kering disekitarnya, lalu ingatkan kembali ‘ini seperti di buku yang kita baca kemarin yah dek’.Teknik membacakan buku seperti ini sangat efektif untuk menambah kosakata anak yang sedang dalam fase belajar ngomong yah. 

Lalu bagaimana jika anak ditengah-tengah proses baca buku anak tiba-tiba merobek buku?  Anak belum punya kontrol terhadap motorik dalam tubuhnya dengan baik. Maka merobek buku adalah bagian dari tumbuh kembang anak. Bila anak terlihat antusias saat merobek buku, maka fasilitasi tersebut dengan kegiatan yang merangsang control motoriknya.

Lalu untuk menemani kegiatan membaca, coba memakai boardbook dulu, maka lebih aman dari robekan anak. Meski merobek kertas adalah bagian dari tumbuh kembang anak, kita harus tetap kasih tau anak, bahwa merobek buku tidak dibenarkan, buku harus diperlakukan dengan baik. Bila sudah terlanjur dirobek, segera ajak anak untuk menerima konsekwensi yaitu dengan merekatkan Kembali bagian yang robek dengan isolasi dll.

Tapi bagaimana jika kita sudah melakukan tips-tips diatas namun anak mempunyai ketertarikan pada buku hanya di beberapa halaman saja yang menurut mereka menarik. Halaman yg lain sering diloncati dan cenderung tidak dibaca. Menurut dr. Pinan tidak apa, sesuaikan ekspektasi dengan usia anak. 

Anak dibawah 3 tahun goal nya bukan untuk menyelesaikan satu buah cerita, tapi untuk mengenalkan buku dan mengenalkan sebanyak mungkin kosakata. Kita hanya perlu mefasilitasi buku anak sesuai minat anak. Kalau ingin menyelesaikan satu cerita, berikan buku-buku yang berdurasi pendek dan banyak gambar. Lalu bagaimana sih cara memilih buku anak yang tepat untuk anak kita? nah berikut tips nya:

Tips Memilih Buku Anak

1.Sesuaikan dengan umur anak. 

–   Untuk anak 0-6 bulan, pilihlah buku high contrast. Ini berguna untuk melatih penglihatan anak, barena saat rentang usia ini, penglihatan anah sedang berkembang. 

  • 6-12 bulan. Pilih buku soft book. Karena anak seusia ini masih dominan sekali fase oralnya. jadi selain aman, bisa berguna juga untuk stimulus sensorinya, karena biasanya di jenis buku ini terdapat teether, dan juga ada isi buku yang dilapisi plastik sehingga akan berbunyi bresek-bresek jika digerakkan. Pilih yang gambarnya sangat lebih dominan ketimbang tulisannya. Misalnya satu halaman tulisannya cuma: aku suka minum susu. 
  • 12-18 bulan. Pilih buku board book. Dan juga buku-buku yang tebal jenisnya dan memiliki fitur feel and touch book, push-pull-slide book, soundbook . Pilih juga buku yang lebih dominan gambar daripada tulisannya. 
  • 18-2 tahun. Pilih buku paper book. Bisa juga activity book seperti stiker book. 
  • 2 tahun keatas. Pilih buku yang tulisannya mulai banyak, dan mempunyai cerita yang lebih panjang. 
  • Untuk anak yang dibawah 3 tahun (fase unconscious mind) dimana otaknya bagaikan spons yang menyerap apa aja informasi yang dia dapetin, sebaiknya kita pilihkann buku yang pesan moralnya ‘tersurat’ dan ‘to the point‘. Misalnya seperti buku-buku karangan Michael Dahl ‘Bear says Thankyou’, ‘Penguin says Please., ‘Hippo says Excuse Me. dan ‘Mouse says sorry’. Di buku-buku tersebut jelas dan to the point sekali kapan seharusnya mengucapkan kata-kata tolong, permisi, terimakasih, dan maaf. 
  • Untuk anak 3 tahun keatas (conscious mind) dimana dalam fase ini, anak sudah bisa diajak ditaburi, sudah bisa kenal sama emosinya, bisa menentukan pilihan sederhana, boleh pelan-pelan kita tingkatkan buku bacaannya yang mengandung pesan moral ‘tersirat’. Contohnya di buku yang judulnya ‘That’s not Funny. Bunny’ yang menceritakan tentang seekor anak kelinci yang mencoba pakai topi lucu, atau baju-baju lucu untuk menarik perhatian teman-temannya. Padahal sebenarnya teman-temannya ini menyukai Bunny yang punya telinga panjang, dan ekor yang lembut, mereka sayang sama Bunny yang apa adanya. Dari buku-buku seperti ini kita bisa mengajak mereka berdiskusi tentang peran moral.

2. Pilih cerita yang paling dekat dengan realita.

Pillh cerita yang paling dekat dengan reallta. Anak-anak dibawah 5 tahun imajinasinya masih sangat terbatas yah istilah nya ‘new bids on the block’. Nahh sebaiknya kalau kita belikan buku, sebisa mungkin tokohnya sesuai dengan sifat aslinya. Misalnya burung yang punya sayap, ular melata, percakapan antar tokoh pun dilakukan oleh makhluk hidup (antar binatang, antar manusia, antar tumbuhan, bukan benda mati yang diceritakan bisa mengobrol satu sama lain). Hindari dulu buku-buku yang isinya misalnya: seorang tuan puteri yang berubah menjadi kodok. Atau seekor penyu yang tiba-tiba punya sayap. 

3. Pilih gambar buku anak yang tidak terlalu ramai 

Pilih gambar buku anak yang tidak terlalu ramai. Kenapa? Kalo gambar terlalu crowded, terlalu berwarna warni, anak jadinya tidak fokus. 

4. Setelah selesai membacakan buku, sebaiknya kita ceritakan ulang synopsis dan ringkasan cerita dari isi bukunya. 

Demikian beberapa tips memilih buku anak, semoga bisa membantu untuk mempermudah para orang tua memilih untuk anak yang tepat ya.

Nah yang terakhir, setelah anak bisa membaca buku, Ayah Bunda pasti mau kan kemampuan anak meningkat. Misalnya setelah membaca buku dia bisa menceritakan kembali ceritanya. Lalu kapan yaa waktunya anak bisa bercerita sendiri dan gimana caranya agar anak percaya diri cerita sendiri?

Trik agar anak mau menceritakan Kembali ceritanya

    1. Berempati, ‘terimakasih sayang, sudah bercerita, wah ceritanya bagus ya’

    2. Validasi perasaanya ‘kenapa sayang?, malu ya?’

    3. Berikan motivasi yang netral, ‘oke nggak apa-apa, kalau kamu malu, mau lanjut kamu yang cerita, atau ibu saja yang membacakan sayang?’

Intinya tidak ada paksaan, anak dipaksa untuk percaya diri dan terus memaksanya bercerita hanya akan membuat rasa percaya dirinya makin kurang, Tidak ada waktu tepat untuk membuatnya pandai bercerita, ada anak yang memang cepat ,ada anak yang butuh adaptasi dengan kegiatan baru. Lakukan 3 poin di atas agar anak mengerti bahwa bercerita itu kegiatan yang menyenangkan dan dilakukan tanpa paksaan.