Pengalaman WNI Puasa di China Saat Pembatasan Covid-19, Masjid Tutup   - Digitren Indonesia
Beranda » Travel News » Pengalaman WNI Puasa di China Saat Pembatasan Covid-19, Masjid Tutup  

[

digitren.id – Puasa Ramadhan tahun ini terasa berbeda bagi Warga Negara Indonesia (WNI) di China. Sebab, saat ini Pemerintah China kembali memperketat penanganan Covid-19, bahkan menerapkan penguncian wilayah (kuncitara) di Shanghai.

Akibat hal tersebut, tempat ibadah serta ruang publik lainnya ditutup. Kebijakan ini sesuai dengan suasana Ramadhan di Cina.

Baca juga:

Masjid tutup

Mohammad Iqbal Saryuddin Assaqty, yang bekerja di Iqbal, membagikan kiriman di Tiongkok Kompas.com.

Mahasiswa S3 di School of Computer Science and Engineering, South China University of Technology, saat ini beroperasi di Guangzhou.

Oleh karena itu, masjid dan tempat ibadah lainnya, serta sejumlah tempat umum ditutup.

“Shanghai masih kuncitaratempat saya tidak kuncitara tapi kontrol ketat. Jadi, masjid tutup lagi sekarang, semua tempat ibadah tutup, tidak ada shalat lima waktu di masjid, semua di rumah masing-masing, ”ujarnya saat dihubungi Kompas.com (11/04/2022).

Baca juga: Cerita WNI Puasa di Wakayama Jepang, Tak Ada Azan sebab Masjid Jauh

Kondisi tersebut terbalik terbalik dengan keadaan sebelum pandemi Covid-19. Umat ​​Islam di Guangzhou masih bisa shalat berjamaah dan buka puasa bersama (bukber) di masjid.

Mau tak mau, kata dia, muslim in Guangzhou kini melakukan shalat tarawih di kediaman masing-masing, termasuk Iqbal dan sang istri. Selain itu, tidak ada agenda bukber seperti Ramadhan sebelum pandemi Covid-19.

“Ada sebelum pandemi dan setelahnya, sebelum pandemi kami bebas ke masjid shalat lima waktu normal, Jumatan semuanya, tapi saat pandemi beda. Ini tidak hanya untuk muslim tapi untuk semua perlakuannya sama, ”tuturnya.

Sebelum pandemi, umat Islam di Guangzhou kerap menggelar sejumlah kegiatan Ramadhan di masjid. Mulai dari bukber, shalat tarawih, berbagi takjil, dan lainnya.

Bahkan, ia menilai suasana Ramadhan di Guangzhou hampir serupa dengan Indonesia, meskipun umat Islam di Guangzhou adalah minoritas.

“Suasananya mirip di Indonesia, orang-orang banyak yang menceritakan makanan di masjid. Kami datang sebelum Maghrib nanti sudah disediakan makanan, ”ujarnya.

Baca juga: Pengalaman Puasa WNI di Okinawa Jepang, Wajib Atur Waktu Istiraha

Mahasiswa ibadah di asrama

kegiatan di Masjid Sahabat Sa'ad Bin Abi Waqas, Guangzhou ChinaDok. pribadi kegiatan di Masjid Sahabat Sa’ad Bin Abi Waqas, Guangzhou China

Kondisi serupa oleh Ahmad Musyafa yang juga merupakan mahasiswa doktoral School of Computer Science and Engineering, South China University of Technology. Berbeda dengan Iqbal, Syafa, panggilan akrabnya menetap di asrama kampus.

Akibat hal tersebut, mahasiswa yang menetap di asrama hanya bisa beribadah di kamar selama Ramadhan. Beruntungnya, Syafa tidak sendiri.

Baca juga: Pengalaman Puasa WNI di Okinawa Jepang, Wajib Atur Waktu Istirahat

Ada sekitar 15 hingga 20 orang mahasiswa muslim di kampusnya. Mereka berasal dari Pakistan, Bangladesh, dan Timara Tengah.

“Guangzhou diaktifkan penuh lagi, jadi kami yang di asrama tidak boleh keluar kampus,” ujarnya.

Padahal, kata Syafa, sebelum pandemi mahasiswa muslim di kampusnya kerap menggelar kegiatan bukber dan shalat tarawih bersama di aula kampus.

Sumber artikel : https://travel.kompas.com/read/2022/04/12/202237427/pengalaman-wni-puasa-di-china-saat-pembatasan-covid-19-masjid-tutup

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.