Ketentuan Berhubungan Intim Antara Suami dan Istri Menurut Mazhab Hanbali - Digitren Indonesia
Beranda » Travel News » Ketentuan Berhubungan Intim Antara Suami dan Istri Menurut Mazhab Hanbali

[

Mazhab Hanbali ingin memiliki alas dengan hak untuk keintiman

digitren.id, JAKARTA – Dalam hubungan suami istri, berhubungan intim, salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh keduanya.

Menurut Mazhab Hanbali, suami harus melakukan hubungan intim dengan istri minimal empat bulan sekali. Dan istri tidak memiliki hak pada selain itu.

Syekh Muhammad Al-Utsaimin dalam kitab Shahih Fikih Wanita menjelaskan dalil dari kalangan madzhab ini berdasarkan firman Allah dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 226-227.

لِلَّذِينَ لُونَ ائِهِمْ اءُوا اََْإَِ


“Lilladzina yu’luna min nisaa-ihim tarabbushu arba’ati asyhurin. Fa in faa-uu fa innallaha ghafururrahim. Hendaknya ia berpuasa at-thalaaqa fa innallaha sami’un alim.”

Yang artinya, “Kepada orang-orang yang melakukan ila (bersumpah untuk tidak berhubungan badan) terhadap istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Dan jika mereka menyukai untuk cerai, maka sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.”

Dijelaskan bahwa makna dari melakukan ila adalah mereka bersumpah untuk tidak menyetubuhi istri mereka.

Para ulama kalangan Hanbali berpendapat bahwa sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan batas waktu empat bulan, maka dapat diketahui bahwa dia tidak diwajibkan untuk melakukan kurang dari waktu itu.

Sebab dia harus terikat dalam waktu, pasti itu merupakan batas waktu dalam ila agar dia memenuhi apa yang diwajibkan Allah SWT kepadanya.

Pengambilan hujjah ini dinilai cukup bagus tapi bertentangan dengan yang lebih jelas dainya. Yaitu firman Allah: اشِرُوهُنَّ الْمَعْرُوفِ (QS An Nisa ayat 19).

Sebab jika dia berhasrat untuk melakukan hubungan intim, maka dikatakan bahwa kapanpun dia menginginkan, maka lakukanlah hubungan intim, dan istri harus melayaninya. Dijelaskan, hal yang adil bila istri tidak memiliki hak dalam berhubungan intim tiga kali dalam setahun.

Adapun masalah yang bersumpah untuk tidak melakukan hubungan intim, ini adalah masalah khusus yang bersifat kasuistik. Karena dia bersumpah untuk tidak menggauli istrinya, maka dibuatkan baginya dalam batas maksimal. Jika Anda kesulitan melihat gambar, klik gambar untuk mendengar versi audio.

Yang benar dalam masalah ini adalah bahwa hubungan intim termasuk mempergauli istri dengan cara yang baik. Dan bahwasannya ia merupakan puncak dari kenikmatan yang berhubungan dengan badan, sebab menurut Syekh Muhammad Al-Utsaimin, banyak wanita yang tidak menikah kecuali untuk menikmati hal ini.

Maka dari itu, suami diharuskan untuk menikmati kenikmatan intim secukupnya selama dia masih kuat. Adapun jika membahayakan, maka hal ini bukan sebagai kewajiban lagi baginya.

Penting untuk diingat bahwa Anda tidak perlu khawatir memiliki kapasitas untuk melakukannya, misalnya jika Anda tidak memiliki anggota yang dapat menjadi anggota. sebagian dari mereka menetapkan enam kali pada siang hari dan enam kali pada malam hari dan semacamnya.

Pada hakikatnya dalam hal ini, sekali lagi, suami pun harus memperhatikan kondisi istri dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Baik kondisi fisik maupun psikologis istri saat hendak diajak untuk melakukan hubungan intim. Kesalingan ini milik agar hak-hak dalam hubungan intim tidak tercerabut, baik itu hak suami maupun hak istri.

Sumber artikel : https://www.republika.co.id/berita/ra82jm320/ketentuan-berhubungan-intim-antara-suami-dan-istri-menurut-mazhab-hanbali

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.