Jual Beli Pada Zaman Rasulullah SAW dan di Era Digital - Digitren Indonesia
Beranda » Travel News » Jual Beli Pada Zaman Rasulullah SAW dan di Era Digital

[


Halo teman-teman semua! Anda membelinya di mall, supermarket dan mall bukan? Apakah kita menghabiskan banyak waktu untuk berbelanja online, terutama untuk memesan semua yang kita butuhkan? Idealnya, materi yang dibahas kali ini adalah tentang jual beli. Tahukah Anda bagaimana rasanya jual beli di zaman Nabi Muhammad? Yuk simak artikel ini untuk menambah pengetahuan jual beli di zaman Nabi Muhammad SAW dan saat ini di era digital.

Teknologi dan internet merupakan salah satu kebutuhan yang paling penting bagi masyarakat. Mereka tidak hanya menyederhanakan teknologi dan Internet, tetapi juga memainkan peran penting di tempat kerja dan bisnis. Upaya yang dapat dilakukan dalam komunitas ini adalah dengan melakukan jual beli secara online. Kata beli dan jual datang dalam dua bentuk, yaitu “jual dan beli”. Padahal, kata “jual” dan “beli” memiliki arti yang berlawanan. Kata “menjual” mengacu pada tindakan menjual dan “membeli” berarti tindakan membeli. Dalam bahasa, jual beli berarti menukar satu hal dengan yang lain, dan di Suriah, bertukar properti dengan cara tertentu.
Dagang atau niaga merupakan amalan yang paling dianjurkan dalam ajaran Islam. Nabi Muhammad sendiri mulai berdagang di negeri Syam di masa mudanya. Menurut ajaran Islam, jika dilakukan dengan benar, maka dibolehkan jual beli. Dahulu, sistem jual beli dikenal dengan sistem perdagangan, dimana perdagangan dilakukan secara tatap muka. Jual beli sudah dikenal sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagian besar istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sebagai pedagang. Dalam Islam, aturan dan peraturan jual beli harus dipatuhi oleh para pedagang dan penguasa. Di masa lalu, ketika orang membutuhkan barang, mereka harus menggantinya dengan barter, dan kemudian mereka tumbuh menggunakan uang untuk membeli barang-barang itu.

Mengenai bisnis online, ada hadits yang berbunyi, “Jangan membeli ikan di dalam air karena sering curang” (HR. Ahmad ibn Humbal dan al-Bayhaqi dari Ibn Mas’ud). Jual beli online dapat diartikan sebagai jual beli barang dan jasa melalui media elektronik khususnya internet atau online. Dengan pemikiran ini, dapat disimpulkan bahwa pemasaran Internet dan pemasaran media elektronik adalah masalah transaksi jual beli tanpa perlu kontak tatap muka antara penjual dan pembeli. Ciri-cirinya, jenis barangnya, kalau barangnya dibayar dimuka harganya, barangnya dipindahtangankan atau sebaliknya barangnya didahulukan, baru uangnya ditransfer. Contoh penjualan produk secara online adalah Bukalapak.com, berniaga.com, tokobagus.com, lazada.com, kaskus, olx.com, dll.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan jual beli budak sebagai peluang dan keleluasaan karena semua manusia memiliki kebutuhan individu berupa sandang, pangan dan papan. Keinginan seperti itu tidak akan hilang selama orang masih hidup. Tidak ada yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, sehingga orang perlu terhubung satu sama lain. Tidak ada yang lebih sempurna dalam hubungan ini daripada ketika seseorang memberikan apa yang dimilikinya dan mendapatkan apa yang penting bagi orang lain sesuai dengan kebutuhannya.

Ikuti ulasan menarik lainnya dari penulis Klik di sini

Gambar

Saya mengikuti Program Studi Ekonomi Syariah UN Reserve Hidayatullah Jakarta

Sumber artikel : https://retizen.Digitren/posts/19642/jual-beli-pada-zaman-rasulullah-saw-dan-di-era-digital

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.