Dalil Puasa Rajab | Republika Online - Digitren Indonesia
Beranda » Travel News » Dalil Puasa Rajab | Republika Online

[

Anda hanya perlu lebih membedakan dengan bantuan yang Anda berikan kepada orang lain.

digitren.id, MAKKAH – Rajab adalah salah satu bulan-bulan yang, sehingga banyak Muslim yang mengerjakan amalan, seperti sholat sunnah di bulan ini. Pada tahun ini, tanggal 1 Rajab 1442 Hijriyah jatuh pada Rabu 2 Februari 2022.

Namun, para ulama berbeda pendapat terkait amalan puasa sunnah di bulan Rajab ini. Ada sebagian ulama yang memang menyunnahkan liburan di bulan Rajab. Tapi, ada juga ulama yang membid’ahkan dan memakruhkannya.

Dalam bukunya yang berjudul Masuk Neraka Gara-Gara Puasa Rajab? Menurut Ustadz Ahmad Sarwat, banyak fatwa dari para ulama khalaf (kontemporer) yang konon merupakan bid’ah otoritas Rajab.

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan Syekh Shalif Fauzan. Misalnya, Syeikh Abdul Aziz memutuskan untuk mengubah jabatannya pada tanggal 8 dan 27 Rajab dengan kitab Fatawa Nurun ‘ala Ad-Darbi sebagai berikut:

“Mengkhususkan hari-hari itu dengan puasa adalah bid’ah. Nabi SAW tidak pernah gagal pada 8 dan 27 Rajab, tidak memerintahkannya dan tidak menaqrirnya. Untuk aturan bid’ah.”

Selain itu, ada ulama yang berpendapat, puasa di bulan Rajab adalah makruh, yaitu pendapat dari sebagian ulama salaf, khususnya mazhab Al-Hanabilah. Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama dalam mazhab Al-Hanabilah yang menuliskan dalam kitabnya Al-Insyafi: “Hukuman dengan membuat Rajab (sebulan penuh) huknya makruh. Dimungkinkan untuk mengunduh mazhab dan untuk mendukungnya.”

Namun, sebagian besar ulama (jumhur) di luar mazhab Al-Hanabilah umumnya menghukumi sunnah hari raya pada bulan Rajab. Meskipun demikian, dari sisi hadits-hadits yang tersedia banyak yang dianggap dhaif. Menurut Ustaz Sarwat, manhaj salaf yang asli dari umat ini jelas sekali, yaitu hadis dhaif masih bisa dijadikan sumber rujukan, khususnya untuk fadhailul-a’mal (keutamaan).

Menurut Ustaz Sarwat, setidaknya jumhur ulama punya dua hujjah. Pertama, adanya hadits yang digunakan untuk keperluan sunnah. Kedua, adanya hadits yang harus diambil untuk merayakan bulan-bulan haram (mulia), yang mana Rajab termasuk bulan haram.

Nabi (damai dan berkah Allah besertanya) mengatakan: (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i putra Ibnu Majah).

Jika Anda adalah anggota atau Anda dapat mengunduh Rajab antara lain Ibnu Shalah, Al-Izz Ibnu Abdissalam, As-Sututhi, Ibnu Hajar Al-Haitsami, Ash-Shawi, dan Asy-Syaukani, Anda akan menemukannya.

Jika ingin memaksimalkan sunnah di bulan Rajab, Ustaz Sarwat akan bisa menikmati sunnah di Bulan Rajab serta masalah khilafiyah masalah terbaik demi bisa menikmati kabar baiknya.

Ketiganya adalah pandangan yang datang dari para ulama. Namun, menusut Ustaz Sarwat, meskipun para ulama tersebut tidak sependapat, bukan berarti kita boleh saling mencaci maki atau menghina. Sebaliknya, kata dia, justru semua pendapat itu wajib.

“Saya punya banyak uang untuk dibelanjakan untuk pintar dan paling tinggi imannya, banyak yang merasa paling benar dan berbeda pendapat yang tidak perlu dijelek-jelekkan,” kata Rumah Fiqih Indonesia.

Sumber artikel : https://www.republika.co.id/berita/r6mm32430/dalil-puasa-rajab

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.