• Gabung Bersama Kami untuk Dapatkan Tambahan Penghasilan Sampai 100 Juta Dalam Program Affiliasi dan Reseller Produk Kami
Beranda » Blog » Antara Syariat, Tarekat, dan Hakikat: Sebuah Permisalan

Antara Syariat, Tarekat, dan Hakikat: Sebuah Permisalan

Diposting pada 11 April 2022 oleh pengurus / Dilihat: 106 kali

[

Istilah syariat, tarekat, dan hakikat identik dengan dunia tasawuf

ustadz yendri junaidi lc 201201172946 124

Oleh: Ustadz Yendri Junaidi Lc MA, dosen STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang, alumni Al-Azhar Mesir

digitren.id, JAKARTA— Tasawuf merupakan wadah untuk mendisiplinkan anak jika mencintai Islam. Keberadaannya pun menuai pro dan kontra di kalangan internal umat Islam.

Syekh Abdul Halim Mahmud, mantan Grand Syekh Al-Azhar Mesir, menjelaskan, “Bagaimanapun Anda tidak menyukai tasawuf, Anda tidak bisa mengingkari bahwa banyak orang yang memiliki kecenderungan kepada sisi. ruhany lebih dari sisi zahiri (kasat mata). Memahami banyak orang yang lebih cenderung kepada sisi zhahiri daripada ruhany. Pada akhirnya, ini adalah masalah masyrab (Kecenderungan pikiran dan perasaan).”

Ada tiga istilah yang selalu muncul dalam setiap kajian tasawuf yaitu syariat, tarekat, dan hakikat. Beragam cara dalam memahami ketiga istilah ini.

Ada yang masih di jalurnya, ada yang sudah keluar jalur. Ada yang menganggap bahwa tiga istilah ini ijat jenjang yang ketika sudah sampai di atas maka yang tertinggal ditinggalkan.

Tak heran jika ada yang merasa sudah sampai ke tingkat hakikat, dia merasa tak memerlukan syariah lagi. Tidak ada batasan konten yang bisa Anda kirimkan tokoh-tokoh tasawuf sendiri.

Tidak ada keraguan bahwa Anda dapat mengubah status quo untuk memasukkan syariat, tarekat, dan hakikat. Kisah ini bisa saja bersifat ramziy (simbolis). Namun, Anda tidak akan dapat melihat detail detailnya, Anda akan dapat mengunduhnya, Anda akan dapat menemukan yang tepat untuk Anda gunakan sendiri dan menikmatinya.

Seorang laki-laki datang menemui seorang alim. Dia berkata, “Syekh, aku mohon tolong diperbaiki karena apa itu syariat, tarekat, dan hakikat secara singkat dan cepat.”

Syekh yang alim ini menganggukkan kepalanya. Lalu ia mengajak laki-laki itu ke pasar.

Setiba di pasar, keduanya melihat seorang penjual buah-buahan. Syekh berkata pada laki-laki tadi, “Orang itu di masa mudanya melakukan dosa besar. Ia pantas untuk ditampar. Pergilah ke depan tampar wajahnya!”.

Laki-laki ini mulanya ragu. Bagaimana mungkin ia akan pernah menilai orang yang tidak pernah ia kenal dan tidak ada masalah apapun dengannya. Tapi demi perintah Syekh, dia pun melangkah menuju penjual buah itu lalu beratnya.

Tidak menunggu lama, penjual buah tersebut membalas tamparan laki-laki itu dengan tamparan yang lebih keras. Tapi ketika tahu kalau Syekh yang menyuruh, penjual buah itu meminta maaf.

Keduanya berjalan kembali. Tiba-tiba mereka melihat seorang penjual daging. Syekh berkata pada laki-laki tadi, “Orang ini juga telah melakukan dosa di waktu mudanya. dia berhak untuk ditampar. Datanglah ke suatu cahaya dan tampar mukanya! ”

Demi mentaati Syekh, laki-laki tersebut melangkah ke arah penjual daging tersebut lalu kreditnya. Namun penjual daging ini tidak membalas. Dia hanya menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata, “Cukuplah Allah tempatku mengadu. Biarlah Dia yang membalasmu.”

Selanjutnya kembali melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba mereka melihat seorang tukang jagal yang berbadan tegap dan besar.

Syekh memintanya untuk meminta tukang jagal itu. Dengan sedikit takut ia melangkah ke arah tukang jagal lalu memindahkannya.

Setelah ditampar, tukang jagal ini hanya tersenyum. Ia tidak membalasnya. Lalu berkata, “Sampaikan salamku pada gurumu.”

Kemudian Syekh berkata pada laki-laki itu, “Yang pertama tadi, itulah syariah. Kezaliman dibalas den kezaliman. “Itu hanya menjadi perhatian kami saat itu.

Adapun yang kedua, itulah tarekat. Dia tidak mengambil haknya. Ia menyerahkan semuanya pada Allah SWT apa balasan yang pantas untukmu.

Sementara yang ketiga, itulah hakikat. Dia tidak merasa punya hak sama sekali. Lisan sebaliknya berkata:

لْ كُلٌّ اللهِ “Katakanlah semua dari sisi Allah.”

الشريعة: ا لك ا لي Syariat: “” Ini untukmu, ini untukku.

القةريقة: ا لي لك Tarekat: Kami di sini untuk Anda. ”

: لا لي لا لك Hakikat: Tidak ada untukku dan untukmu.

Semua adalah untuk dan milik Allah SWT.

الله الى لم

Sumber artikel : https://www.republika.co.id/berita/r9z2n9320/antara-syariat-tarekat-dan-hakikat-sebuah-permisalan

Bagikan ke

Antara Syariat, Tarekat, dan Hakikat: Sebuah Permisalan

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.

Antara Syariat, Tarekat, dan Hakikat: Sebuah Permisalan

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: